Kerajaan Demak

Sabtu, 12 Mei 2012 21.18 by Gilang Bayou
Sejarah kerajaan demak – Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam yang pertama kali di Pulau Jawa. Kerajaan ini didirikan pada akhir abad 15. Letak Kerajaan ini di daerah Bintaro dekat muara Sungai Demak. Pusat kerajaannya terletak antara pelabuhan Brogota dan Jepara.
Daerah semula hanya sekitar Demak dan merupakan bagian wilayah Majapahit. Kemudian, Demak memisahkan diri dari Majapahit dan berdiri menjadi Kerajaan Demak. Raden Patah merupakan salah seorang murid Sunan Ampel di Jawa Timur. Setelah masuk Islam dan dibantu oleh para wali, Raden Patah berhasil menanamkan pengaruhnya di Majapahit.
Faktor-faktor pendorong kemajuan Demak adalah:
  • Letaknya strategis di daerah pantai, sehingga terbuka hubungan dengan dunia luar;
  • Pelabuhan Bergota di Semarang merupakan pelabuhan ekspor-impor yang penting bagi Demak;
  • Memiliki sungai sebagai penghubung daerah pedalaman, sehingga membantu pengangkutan hasil pertanian beras sebagai komoditas ekspor utama Demak;
  • Runtuhnya Majapahit oleh Demak membuat Demak berkembang pesat.
Bebebrapa raja yang memerintah demak ialah sebagai berikut:

a. Raden Patah (1478-1518)

Raden Patah adalah pendiri dan raja pertama di Demak. Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dengan bantuan para wali, Demak diperluas hingga meliputi Jepara, Pati, Rembang, Semarang, Kepulauan di selat Karimata dan beberapa daerah di Kalimantan. Demak menguasai beberapa pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik.
Demak berperan besar dalam penyebaran agama Islam. Dengan bantuan Sembilan Wali (Wali songo), Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah nusantara bagian timur. Oleh para wali, di Demak didirikan Masjid Agung Demak yang masih kokoh berdiri sampai sekarang.
Murid-murid para wali ini tidak hanya orang Jawa. Di antara murid-murid itu ada yang berasal dari Banjarmasin (Banjar), Makasar, Ternate, dan Ambon. Di daerah-daerah kekuasaan Demak seperti wilayah pesisir utara Jawa, sebagian Sumatera, dan sebagian Kalimantan, agama Islam juga disebarkan.
Penyebaran agama Islam di Jawa sangat berhasil. Cara dakwah Sunan Kalijaga dikenal dengan menggunakan seni wayang kulit. Sunan Kalijaga menyadari bahwa cerita wayang berasal dari Hindu India, tetapi beliau mampu menyesuaikan dan memasukkan ajaran Islam di dalamnya. Dengan cara ini ajaran Sunan Kalijaga mudah diterima masyarakat.
Perkembangan ekonomi Demak sejalan dengan luas wilayah dan perkembangan perdagangan menjadi semakin maju. Banyak barang yang berasal dari Demak berupa beras dikirim ke Malaka. Ketika Malaka dikuasai Portugis, Demak merasa ikut dirugikan. Berkaitan dengan peristiwa tersebut, pada tahun 1513 M Demak menyerang Portugis ke Malaka. Penyerangan ini dipimpin oleh putra mahkotanya sendiri yang bernama Pati Unus.
Demak mengirim 100 kapal perang dengan ribuan prajurit yang berasal dari Demak, Palembang, dan Aceh. Penyerangan ini dilakukan dari arah utara Selat Malaka yaitu dari Demak – Selat Sunda – Pantai barat Sumatera – Aceh – Selat Malaka – Malaka. Dalam penyerangan ini, Demak dibantu oleh Kerajaan Palembang dan Aceh. Dalam penyerangan ini, Demak dibantu oleh Kerajaan Palembang dan Aceh. Karena faktor yang terlalu jauh daan peralatan perang yang kurang seimbang, penyerangan tidak berhasil.
Kegagalan penyerangan ini membuat Demak semakin waspada tentang beratnya ancaman Portugis. Untuk itu Demak meningkatkan pertahanannya dengan meningkatkan jumlah prajurit dan kapal-kapal perangnya. Raden Patah wafat tahun 1518 M, kemudian digantikan oleh putra mahkotanya yang bernama Pati Unus.

b. Pati Unus (1518-1521)

Pati Unus berkuasa tahun 1518 M sampai tahun 1521 M. Karena jasanya memimpin armada laut Demak dalam penyerangan ke Malaka, Pati Unus mendapat sebutan “Pangeran Sebrang Lor”. Pemerintahan Pangeran Sebrang Lor ini tidak berlangsung lama, karena setelah tiga tahun memerintah beliau sakit dan wafat tahun 1521. Pati Unus meninggal tanpa menurunkan anak. Sebagai penggantinya adalah adiknya yang bernama Raden Trenggono yang kemudian bergelar Sultan Trenggono.

c. Sultan Trenggono (1521-1546)

Sultan Trenggono adalah adik Pati Unus dan putra ketiga Raden Patah. Di bawah pemerintahan Sultan Trenggono, wilayah Demak bertambah luas. Tahun 1522, armada laut Demak di bawah pompinan Fatahillah (Faletehan) mengadakan penyerangan dimulai dari Banten, Sunda Kelapa, kemudian ke Cirebon. Ketiga daerah ini semula di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Pada saat itu juga Portugis berkerjasama dengan Pajajaran untuk menguasai Sunda Kalapa.
Pada tahun 1527, Demak berhasil merebut Sundaa Kelapa dari tangan Portugsi. Dalam pertempuran ini, Portugis mengalami kekalahan. Fatahillah menggantikan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Sekarang kita kenal dengan DKI Jakarta. Saat pemindahan nama ini ditetapkan sebagai berdirinya kota DKI Jakarta.
Berkat keberhasilan Demak mempeeluas wilayahnya ke barat, Sultan Trenggono merencanakan perluasan wilayahnya ke timur. Tujuan utamanya adalah Pasuruan Jawa Timur. Tetapi, Sultan Trenggono tidak berhasil bahkan wafat pada tahun 1546 M.
Sepeninggalan Sultan Trenggono, di Demak terjadi perebutan kekuasaan antara putra sulung Sultan Trenggono yang bernama Sunan Prawoto dengan Pangeran Sekar, kakak Sultan Trenggono. Pangeran Sekar kalah dan meninggal. Kemudian, Sunan Prawoto menjadi raja di Demak.
Sunan Prawoto tidak lama menjadi raja di Demak, terjadi pembrontakan Arya Penangsang, anak Pangeran Sekar. Dalam peperangan itu, sunan Prawoto gugur. Arya penangsang mendapat perlawanan dari menantu Sultan Trenggono yang bernama Pangeran Hadiri (Sultan Kalinyamat), tetapi tidak berhasil. Pangeran Handiri meninggal oleh Arya Penangsang.
Perlawanan dilanjutkan oleh Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang berasal dari Tingkir Salatiga. Dengan siasat yang diajarkan Ki Ageng Pemanahan, pembrontakan Arya Penangsang (Adipati Jipang) dapat dipadamkan.
Siasat tersebut antara lain dengan menampilkan Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan yang baru berusia 16 tahun dijadikan sebagai panglima perang. Akibatnya, Arya Penangsang tidak tega membunuh, tetapi justru sebaliknya Arya Penangsang terbunuh oleh Sutawijaya.
Berkat jasanya mengalahkan Arya Penangsang, Ki Ageng Pemanahan mendapat hadiah wilayah di daerah Mataram yaitu Kotagede dan sekitarnya. Sutawijaya dijadikan anak angkat Joko Tingkir. Setelah menjadi raja, Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang.
Beberapa alasan Joko Tingkir memindahkan pusat kerajaan ke Pajang, yaitu:
  • Kraton Demak mengalami kehancuran total akibat perang saudara yang berlarut-larut
  • Mendekati daerah pertanian yang subur yaitu di sekitar Surakarta dan Klaten
  • Menjauhi musuh-musuh politiknya yang ada di sekitar Demak
  • Mendekati daerah pendukungnya yaitu di sekitar Tingkir dan Pajang

0 Response to "Kerajaan Demak"

Poskan Komentar