Semangat Islam dalam kebangkitan awal Kerajaan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam sebagaimana diperlihatkan tinggalan sejarahnya

Sabtu, 12 Mei 2012 20.44 by Gilang Bayou
Kerajaan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam adalah dua kerajaan yang pernah tumbuh di pesisir utara pulau Sumatera mulai dari abad ke-13 M sampai dengan awal abad ke-20 M. Kerajaan Samudra Pasai di bawah pemerintahan dinasti Ash-Shalihiyyah, yakni dinasti yang didirikan oleh Sultan Al-Malik Ash-Shalih (W. 696 H/1397 M), adalah sebuah kerajaan yang mengambil lokasi di timur pesisir utara Sumatera. Sementara Kerajaan Aceh, yang diperkirakan telah beralih secara politis menjadi kerajaan Islam pada penghujung abad ke-15 M, dalam masa-masa kelemahan Dinasti Ash-Shalihiyyah di Samudra Pasai, telah mengambil posisi di barat pesisir utara Sumatera.

Dari tinggalan-tinggalan sejarah zaman kedua kerajaan ini, banyak hal yang secara jelas dan pasti menunjukkan bahwa keduanya merupakan kerajaan yang menjadikan Islam sebagai dasar acuan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek politik, misalnya, hal ini terlihat jelas dan menonjol pada penggunaan gelar sultan (Arab: sulthan) bagi para penguasanya sebagaimana tersebut pada inskripsi-inskripsi nisan makam yang merupakan bekas tinggalan sejarah Samudra Pasai maupun Aceh Darussalam.

Tinggalan-tinggalan sejarah tersebut juga menunjukkan secara lebih tegas bagaimana semangat Islam sebenarnya telah menjadi latar belakang dari berdirinya kerajaan-kerajaan tersebut. Dengan menggunakan inskripsi pada nisan makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih dan Sultan ‘Ali Mughayah Syah sebagai sumber autentik sejarah, kita dapat melihat sisi-sisi yang menampakkan semangat Islam yang dijiwai oleh kedua pendiri dan pelopor kebangkitan kerajaan Islam ini.

Pertama: sisi keimanan dan keyakinannya yang sempurna kepada Allah Ta’ala, baik hati, ucapan maupun perbuatan. Pada epitaph makam Al-Malik Ash-Shalih disebutkan ia adalah at-taqiy, yakni seorang yang bertaqwa, dan al-‘abid, yakni orang yang kuat beribadah. Taqwa merupakan peringkat tinggi yang dicapai oleh seorang yang beriman. Pada makam Sultan ‘Ali Mughayah Syah disebutkan bahwa ia adalah seorang yang berharap kepada kasih-sayang Allah dan orang yang patuh kepada segala perintah-Nya. Kalimat ini jelas menunjukkan tingkat dan kualitas keimanan yang tinggi dari pribadi ‘Ali Mughayah Syah, keimanan yang tidak hanya pada tinggkat ucapan namun pada ketaatannya kepada segala perintah Allah. Keduanya, dengan demikian, merupakan pemimpin yang memiliki keimanan yang tinggi dan sempurna kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala. Menimba pelajaran dari isyarat ringkas ini, kita dapat mengatakan bahwa seorang pemimpin yang baik ia adalah seorang yang memiliki keimanan yang tinggi kepada Allah, tidak hanya keimanan yang diucapkan tapi juga keimanan yang terlihat dalam praktik, sikap, tingkah laku begitu pula dalam berbagai kebijakan yang diambilnya menyangkut kepentingan rakyat dan umatnya. 

Kedua: sisi akhlak, kelemah-lembutan, rasa sayang yang besar bagi rakyat yang dipimpin. Pada makam Al-Malik Ash-Shalih disebutkan bahwa ia adalah an-nashih (suka menasehati) dan al-karim (pemurah, santun). Dua sifat ini saling mengisi dalam memenuhi kepentingan duniawi rakyat yang dipimpinnya serta ukrawiynya. An-Nashih (suka menasehati) adalah wujud kasih sayang yang menginginkan kebaikan seseorang dengan penekanan pada nasibnya di akhirat. Nasehat dalam Islam adalah suatu anjuran agar seseorang terjauh dari murka dan azab Allah dan dekat kepada rahmat dan maghfirahnya. Yang lebih ditujui dari nasehat adalah kemaslahatan batin manusia supaya ia tidak tersesat jalan. Al-Malik Ash-Shalih menginginkan semua orang demikian, tidak tersesat, ia mengajak dan menyeru kepada jalan yang telah ditunjuki oleh Allah baik itu berkaitan dengan aqidah (keyakinan), syari’ah (perilaku mukallaf) maupun akhlaq (budi pekerti). Sementara sifat Al-Karim, pemurah, penyantun, adalah orang yang memiliki rasa kasih-sayang teramat besar kepada setiap orang yang dipimpinnya. Ia tidak memperlakukan orang lain dengan kasar dan sikap sombong sekalipun ia seorang penguasa yang berasal dari garis keturunan yang hebat dan terkenal.

Begitu pula ‘Ali Mughayah Syah, ia adalah seorang Al-Badzil li ‘Ibadillah, orang yang menggunakan segala kemampuannya, menghabiskan semua daya upayanya, untuk kebaikan hamba-hamba Allah, baik itu segala hal yang menyangkut duniawi mereka maupun, dan terutama, ukrawiy mereka. Pelajaran yang diambil dari isyarat ringkas ini adalah seorang pemimpin adalah seorang yang tidak hanya mampu memperbaiki dirinya tapi juga lingkungan atau rakyatnya, bahkan di luar rakyatnya. Pemimpin adalah seorang yang mampu mengajarkan keteladanan dan menyeru kepada kebaikan, dan ia juga seorang yang amat mementingkan kebaikan rakyatnya di atas segala kepentingan pribadinya. Ia adalah seorang yang selalu terpanggil untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain, serta bersedia berkorban demi mereka, dan karena itulah ia menjadi orang yang dicintai dan pahlawan mereka. 

Ketiga: sisi keberanian dan kepahlawanan. Pada makam Al-Malik Ash-Shalih disebutkan bahwa ia seorang al-fatih, yang berarti penakluk atau pembebas. Al-Malik Ash-Shalih dengan demikian seorang ksatria di medan perang, seorang pemberani dan pahlawan. Fath bermakna membuka kawasan atau wilayah baru bagi Islam. Ia dengan begitu adalah seorang mujahid, pejuang, dalam meninggikan agama Allah agar menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan juga seorang pembela Islam. Sementara ‘Ali Mughayah Syah adalah seorang al-ghaziy fi al-barri wa al-bahri yanshuruhullah, seorang yang berperang di darat dan di laut dan Allah memenangkannya. Sultan Ali Mugahyat Syah bukan jenis pribadi penikmat kesenangan. Ia hidup untuk satu misi yang diyakininya telah dibebankan oleh Allah kepadanya. Ia mengharap ridhanya. Ia bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menggapai ridha Allah. Peperangan demi peperangan, apakah di darat maupun di laut, ditempuhnya demi mempertahan negeri kaum Muslimin dan kemerdekaan mereka dari serangan dan tindak semena-mena penjajah Portugis yang merupakan kekuatan imperialisme terawal dari Eropa.Ia dengan demikian adalah seorang pemberani dan pahlawan.

Pelajaran yang dapat dipetik dari sini ialah setiap pemimpin yang menginginkan kebangkitan bangsa atau masyarakat yang dipimpinnya, ia mesti memiliki sikap patriotik dalam medan apapun yang dimasukinya baik untuk mendatangkan kebaikan kepada rakyat maupun dalam melindungi mereka. Dengan demikian ia akan dapat mewujudkan suatu bangsa atau masyarakat Islam yang kuat dan berwibawa, bukan masyarakat yang lemah dan tidak terhormat. Perjuangan menuju kewibawaan sebuah bangsa tentu harus dimulai dari menyiapkan masyarakat tersebut. Masyarakat yang yakin kepada Allah, dan berkemauan keras untuk memperbaiki dirinya, merubah sikap-sikap buruk dan menggantikannya dengan sikap-sikap yang baik sebagaimana diajarkan dan dituntun oleh agamanya.

Sebagaimana terlihat jelas dari keterangan singkat di atas bahwa semua itu adalah nilai-nilai yang telah diajarkan Islam kepada umatnya. Nilai-nilai inilah yang menjadi semangat dari kebangkitan yang dipelopori dua pendiri kerajaan ini, Samudra Pasai dan Aceh Darussalam dalam masa yang berbeda. Suatu semangat yang hendaknya dipegang teguh oleh setiap orang yang bercita-cita membawa Aceh kepada kondisi yang lebih baik, kondisi yang bermarwah dan bermatabat.Wallahu A’lam.



هذا القبر المرحوم المغفور التقي الناصح الحسيب النسيب الكريم العابد الفاتح الملقب سلطان ]ال[ ملك الصالح الذي مات [في] شهر رمضان سنة ست وتسعين وستمائة من انتقال النبوية سقى الله ثراه وجعل الجنة مثواه

“Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, seorang yang taqwa lagi suka menasehati, seorang yang berketurunan terhormat dan terkenal lagi pemurah, seorang yang ahli ibadah lagi pembebas, yang digelar dengan Sultan Al-Malik Ash-Shalih yang meninggal dunia [pada] bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas tanah pusaranya dan menempatkannya dalam syurga.”

Foto, inskripsi dan terjemahannya: Taqiyuddin Muhammad



هذا القبر المغفور المرحوم الراجي إلى رحمة الله المطيع لأوامر الله الغازي في البر والبحر ينصره الله الباذل لعباد الله ألا وهو السلطان علي مغاية شاه سقى الله ثراه وجعل الجنة مأواه توفي ليلة الأحد الثاني عشر من شهر الله الحرام ذي الحجة ختم الله لنا ولكم بالخير والمنة سنة ست وثلاثين وتسعمائة من الهجرة النبوية المصطفوية المكية المدانية [الراحبة] منه إليها عليه أفضل الصلوات وأزكى التحية

“Inilah kubur orang yang diampuni lagi dirahmati, orang yang mengharap rahmat Allah lagi taat akan segala perintah-Nya, orang yang berperang di darat dan di laut dan Allah memenangkannya, orang yang berupaya sekuat tenaga demi [kebaikan] hamba-hamba Allah, dialah Sultan ‘Ali Mughayat Syah. Semoga Allah menyiramkan [rahmat] atas tanah pusaranya dan menjadikan syurga sebagai tempat kembalinya. Wafat pada malam Ahad 12 bulan Allah yang haram Dzulhijjah, semoga Allah mengkhitamkan (menutup) bulan ini dengan kebaikan bagi kami dan Anda, tahun 936 dari hijrah Nabi yang terpilih, dari Mekkah ke Madinah, seutama-utama shalawat dan sebaik-baik tahiyyah semoga terlimpah kepadanya.”
Foto, inskripsi dan terjemahannya: Taqiyuddin Muhammad

0 Response to "Semangat Islam dalam kebangkitan awal Kerajaan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam sebagaimana diperlihatkan tinggalan sejarahnya"

Posting Komentar